Sabtu, 11 Juli 2026

Eks Bos Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka Korupsi, Dulu Garang Buru Maling, Sekarang Malah Ikutan 'Satu Circle'



JAKARTA, MCE – Selera humor hukum di negeri ini memang terkadang agak kelewatan. Publik hari ini disuguhi plot twist paling megah sepanjang tahun 2026. Sosok yang dulunya duduk manis di kursi empuk sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung—alias komandan tertinggi pemburu koruptor—kini resmi menyandang status baru yang super mentereng: Tersangka Korupsi.


​Ya, Anda tidak salah baca. Febrie Adriansyah (FA), pria yang rekam jejaknya dulu dipuja-puja sebagai "singa" pemberantas korupsi, kini justru tersedak oleh umpan yang ia awasi sendiri. Beliau resmi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait pusaran megakorupsi PT Asabri dan "proyek sampingan" lainnya.


​Gelar Perkara Kilat: Saat 'Sang Pemburu' Berubah Jadi Buruan


​Kepastian ini diumumkan langsung dengan nada tanpa ragu oleh Kakortas Tipidkor Polri, Irjen Pol. Totok Suharyanto, dalam konferensi pers bersama DPR dan Jampidsus di Gedung Kejagung, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).


​Seolah ingin membuktikan bahwa polisi tidak sedang bercanda, Totok membeberkan bahwa pihaknya sudah mengantongi amunisi yang lebih dari cukup untuk meruntuhkan reputasi sang mantan jenderal penegak hukum.


​"Kita telah melakukan pemeriksaan ke 15 saksi, dua ahli, termasuk telah lakukan beberapa penggeledahan. Kita sudah lakukan gelar perkara. Berdasarkan gelar perkara, kita sudah menetapkan dua tersangka," sindir Totok secara tidak langsung dalam konferensi pers tersebut.


​Selain FA, seorang pihak swasta berinisial DR juga ikut terseret dalam pusaran cuci-mencuci uang haram ini.


​Gaya Hidup 'Sultan' yang Berakhir di Tangan Polisi


​Bukan netizen namanya kalau tidak jeli melihat detail. Proses penyidikan kasus ini sukses mengocok perut sekaligus memancing emosi publik. Bagaimana tidak? Jalur pelarian uang yang diduga hasil korupsi ini menuntun polisi melakukan penggeledahan di tempat-tempat yang sangat "estetik".


​Mulai dari money changer, rumah mewah di Bogor, hingga Cafe de'Clan Signature di kawasan elite Cipete, Jakarta Selatan. Penggeledahan kafe elite ini langsung memicu gunjingan di media sosial. Netizen pun ramai-ramai menyindir gaya hidup jetset yang diduga dibiayai dari uang yang bukan haknya. Nongkrongnya di Cipete, bayarnya pakai uang apa, Pak?


​Pelimpahan Kasus: Jeruk Makan Jeruk atau Akrobat Hukum Baru?


​Kelucuan drama ini tidak berhenti sampai di situ. Setelah ditangkap oleh Kortastipidkor Polri, berkas kasus FA bersama dua kasus kakap lainnya (korupsi batu bara dan Krakatau Steel) justru dilimpahkan kembali ke Kejaksaan Agung—tempat di mana FA dulu berkuasa.


​Plt Jampidsus Rudi Margono dengan nada bicara yang tampaknya harus sangat berhati-hati, membenarkan bahwa salah satu tersangka yang berkasnya dia terima adalah mantan bosnya sendiri yang berinisial F.


​"Informasinya sudah ditetapkan dua tersangka, yaitu swasta yang kedua adalah berinisial F," ujar Margono di gedung Kejaksaan Agung, Sabtu (11/7).


​Kini, bola panas ada di tangan Kejaksaan Agung. Publik kini memasang mata dan telinga lebar-lebar: Apakah Kejagung akan benar-benar bernyali menyeret mantan bos mereka ke meja hijau dengan hukuman maksimal, atau kita justru akan menonton teater komedi "jeruk makan jeruk" di mana hukum tiba-tiba menjadi ramah dan penuh toleransi kepada mantan keluarga sendiri? Kita kawal sampai pakai rompi. (bp). 

​Sabet Juara di Porkab Bojonegoro 2026, Satriya Wicaksono Harumkan Nama SMAN 1 Baureno





​BOJONEGORO, MCE – SMAN 1 Baureno kembali membuktikan diri sebagai gudangnya talenta muda berbakat dan bermental juara. Kali ini, prestasi membanggakan lahir dari arena olahraga bela diri yang keras penuh gengsi. Satriya Wicaksono, siswa kelas XI.4 SMAN 1 Baureno, sukses mengukir tinta emas dengan meraih Juara 3 Kickboxing tingkat Kabupaten dalam ajang Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Bojonegoro 2026. Sabtu (11/7/2026). 


​Keberhasilan Satriya menembus podium juara ini langsung mendapat apresiasi tinggi dan sorotan positif dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pucuk pimpinan sekolah.


​Kepala SMAN 1 Baureno, Muhammad Ma'ruf, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan rasa bangga yang mendalam atas dedikasi dan kerja keras yang ditunjukkan oleh anak didiknya tersebut. Menurutnya, prestasi ini merupakan buah dari disiplin tinggi dan semangat pantang menyerah yang tertanam kuat dalam diri Satriya.


​"Kami atas nama keluarga besar SMAN 1 Baureno mengucapkan selamat dan sukses yang setinggi-tingginya kepada Satriya Wicaksono atas capaian luar biasa ini. Bersaing di tingkat kabupaten dalam cabang olahraga kickboxing tentu bukanlah hal yang mudah. Ini membuktikan bahwa siswa kami tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu berbicara banyak dan menembus persaingan ketat di bidang non-akademik," ujar Muhammad Ma'ruf dengan penuh rasa bangga.


​Lebih lanjut, Muhammad Ma'ruf menegaskan bahwa pihak sekolah akan terus berkomitmen penuh untuk mendukung, mengawal, dan memfasilitasi setiap bakat serta potensi yang dimiliki oleh para siswa. Ia berharap capaian yang diraih Satriya tidak membuat berpuas diri, melainkan menjadi batu loncatan untuk meraih prestasi yang jauh lebih tinggi di masa depan, baik di tingkat provinsi hingga nasional.


​"Prestasi yang diraih Satriya ini menyengat gelora semangat kami semua. Semoga ini menjadi suntikan motivasi dan inspirasi bagi siswa-siswi SMAN 1 Baureno lainnya untuk terus menggali potensi diri, berani berkompetisi, dan konsisten menorehkan prestasi yang mengharumkan nama sekolah serta daerah," pungkasnya optimis.


​Ajang Porkab Bojonegoro 2026 sendiri menjadi panggung bergengsi bagi atlet-atlet muda di seluruh penjuru kabupaten untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Keberhasilan Satriya Wicaksono mengamankan medali di cabang kickboxing ini sekaligus mempertegas posisi SMAN 1 Baureno sebagai lembaga pendidikan yang sukses melahirkan generasi muda yang tangguh, kompetitif, dan bermental pemenang. (bp). 

​Mulai Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Siswa Baru di Bantul Bakal Dapat Seragam Gratis




BANTUL, MCE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menorehkan komitmen nyata dalam mendukung pemerataan kualitas pendidikan dan meringankan beban ekonomi masyarakat. Mulai Tahun Ajaran 2026/2027, Pemkab Bantul resmi meluncurkan program pemberian seragam sekolah secara gratis bagi seluruh siswa baru yang menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta Madrasah Tsanawiyah (MTs).


​Kebijakan pro-rakyat ini diharapkan dapat menjadi stimulus positif bagi para peserta didik baru di Bumi Projotamansari agar kian termotivasi dalam menuntut ilmu. Melalui bantuan ini, pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berprestasi cemerlang demi masa depan yang lebih baik.


​Bupati Bantul, H. Abdul Halim Muslih menyampaikan bahwa program ini merupakan salah satu bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan setiap anak di Kabupaten Bantul mendapatkan hak pendidikan yang layak tanpa harus terbebani oleh biaya perlengkapan awal sekolah.


​Dengan adanya program seragam gratis ini, diharapkan tidak ada lagi anak usia sekolah di Bantul yang putus sekolah karena kendala biaya operasional awal tahun ajaran. (bp). 


Jumat, 10 Juli 2026

​Aroma Amis Korupsi KUR Jember: PIN ATM Diseragamkan, Identitas Petani Dihargai Seharga Sembako Demi Kejar Target



SURABAYA, MCE – Modus korupsi di negeri ini tampaknya semakin kreatif, sekaligus semakin kehilangan urat malu. Kali ini, giliran sektor Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro yang dijadikan ladang "bancakan". Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur baru saja membongkar borok dugaan korupsi di BNI Kantor Cabang Jember yang nilainya tidak main-main: Rp41,48 miliar. Sabtu (11/7/2026). 


​Mirisnya, uang puluhan miliar tersebut dikeruk dengan cara menumbalkan sekitar 900 warga yang mayoritas adalah petani kecil. Berbekal janji manis pengurusan bantuan sosial (bansos), para mafia ini sukses "merampok" identitas warga sipil tanpa dosa.


​Identitas Petani Dihargai Seharga Sembako


​Gaya lancung para tersangka tergolong sangat rapi dan tega. Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jatim, I Gede Punia, membeberkan bahwa para petani diminta menyerahkan KTP, KK, hingga akta nikah. Alih-alih mendapatkan bansos yang diharapkan bisa menyambung hidup, identitas mereka justru disalahgunakan untuk mencairkan kredit bank.


​Sebagai pemanis, warga hanya diberi uang "uang lelah" sebesar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Sebuah ironi yang luar biasa pedas: dihargai seharga sembako, namun nama mereka tercatat sebagai debitur utang puluhan juta rupiah yang entah mengalir ke mana.


​Faktanya, para petani ini tidak pernah melihat wujud buku tabungan maupun kartu ATM-nya. Semua fasilitas itu diduga kuat langsung dikuasai oleh dua makelar dari swasta, yakni AM (CV Jawara Tani) dan IS (CV Idris Afnan Jaya).


​Bahkan, demi mempermudah proses "pemanenan" uang negara, PIN ATM para nasabah sengaja dibuat seragam. Sebuah kepraktisan yang sangat memanjakan para koruptor saat menguras dana di mesin ATM.


​Demi Kejar Target dan Tutup Borok Lama


​Korupsi berjamaah ini tentu tidak akan berjalan mulus tanpa adanya "orang dalam" yang membukakan pintu. Di sinilah peran MFH, mantan Kepala Cabang BNI Jember periode 2021–2023.


​Bukannya menjaga amanah uang negara, MFH diduga kuat malah memerintahkan bawahannya untuk menabrak aturan. Persyaratan administratif yang amburadul dan belum lengkap tetap "dihijaukan" dan diproses.


​Usut punya usut, langkah nekat ini diduga sengaja dilakukan demi mendongkrak performa capaian penyaluran KUR sekadar di atas kertas. Sekaligus, untuk menutupi tingginya angka kredit bermasalah (NPL) yang sudah menumpuk di cabang tersebut sejak tahun 2020. Gaya manajemen yang sangat "brilian": menutupi lubang lama dengan menggali lubang baru yang jauh lebih dalam dan merugikan negara.


​Audit BPKP: Kerugian Negara Tembus Rp41,4 Miliar


​Berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Jawa Timur lewat laporan tertanggal 7 April 2026, tindakan culas ini sukses merugikan keuangan negara sebesar Rp41.487.138.481. Dari angka fantastis tersebut, sekitar Rp12,59 miliar dikaitkan langsung dengan aksi AM dan IS yang bertindak sebagai koordinator lapangan pencari "mangsa".


​Saat ini, keadilan mulai menjemput para pelaku. Sejak 28 Juli 2026, duet makelar AM dan IS telah resmi dijebloskan ke Rumah Tahanan Kelas I Surabaya untuk 20 hari ke depan.


​Lalu, bagaimana dengan sang mantan Kepala Cabang, MFH? Ia tidak ikut ditahan di Rutan Surabaya karena yang bersangkutan ternyata sudah mendekam di Lapas Jember untuk mempertanggungjawabkan hukuman dalam kasus hukum yang lain. Sebuah rekam jejak karier yang sangat konsisten di jalur pelanggaran hukum.


​Ketiga tersangka kini dijerat dengan Pasal 603 dan Pasal 604 jo Pasal 20 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, serta Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


​Pihak Kejati Jatim menegaskan bahwa penyidikan tidak berhenti sampai di sini. Aliran dana akan terus dilacak, dan publik tentu berharap siapapun pihak internal bank maupun eksternal yang ikut menikmati "uang panas" ini segera menyusul memakai rompi oranye. (bp). 

​ ​Sentuh Hati! Cara Unik SMKN 1 Kota Kediri Didik Karakter Siswa Lewat Tradisi Sungkeman Luhur Jawa




​KEDIRI, MCE – Di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi yang kian masif, SMK Negeri 1 Kota Kediri justru memilih jalan yang menyentuh akar rumput kebudayaan dalam menyambut tahun ajaran baru. Sekolah kejuruan ini membuktikan bahwa pendidikan modern yang maju tidak harus menanggalkan identitas tradisi luhur leluhur.


​Hal ini dibuktikan melalui agenda luar biasa bertajuk "Acara Sungkeman dengan Kembang Telon: Uri-Uri Budoyo Jawi" yang akan digelar khidmat pada Senin, 13 Juli 2026, bertempat di Lapangan Belakang SMKN 1 Kota Kediri.


​Fondasi Pendidikan Berawal dari Adab dan Budaya


​Dalam konferensi persnya kepada awak media, Kepala SMKN 1 Kota Kediri, Edy Suroto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni musiman, melainkan sebuah manifestasi nyata dari keseriusan sekolah dalam membentuk karakter generasi muda.


​"Ini adalah permulaan yang sungguh-sungguh dalam pembelajaran dan pendidikan di SMKN 1 Kota Kediri," ujar Edy Suroto mantap. "Kita ingin mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten dan siap kerja secara teknis, tetapi juga memiliki budi pekerti yang luhur, menghormati orang tua serta guru, dan bangga akan identitas budayanya sendiri."


​Makna Mendalam di Balik "Kembang Telon"


​Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WIB ini mewajibkan para siswa untuk membawa perlengkapan simbolis yang kaya akan filosofi Jawa: Kembang Telon (yang terdiri dari 1 tangkai bunga mawar, 1 buah kembang kenanga, dan 1 buah bunga kanthil) serta 1 air mineral kemasan gelas.


​Secara turun-temurun dalam falsafah Jawa, unsur-unsur ini melambangkan ketulusan, keharuman nama baik, dan keterikatan batin yang suci antara anak dan orang tua, serta murid dan guru. Prosesi sungkeman massal ini diharapkan mampu melebur ego masa remaja dan mengisinya dengan rasa takzim, restu, serta doa agar perjalanan menuntut ilmu di SMKN 1 Kota Kediri berjalan berkah dan lancar.


​Menjawab Tantangan Zaman: Bangun Generasi Berkarakter


​Melalui jargon utamanya; Hormati Orang Tua dan Guru, Melestarikan Budaya Jawa, serta Bangun Generasi Berkarakter dan Berbudaya, SMKN 1 Kota Kediri ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia pendidikan di Indonesia. Bahwa di atas ilmu pengetahuan yang tinggi, ada adab yang harus dijunjung setinggi langit.


​Langkah berani dan menyentuh hati dari SMKN 1 Kota Kediri ini pun diprediksi akan menuai banyak apresiasi positif dari kalangan warganet (netizen) yang merindukan kembalinya nilai-nilai kesopanan dan budaya ketimuran di ranah sekolah formal. (bp). 

​Sindikat Maling Sapi Lumajang Digulung, Otak Pelaku Bersenjata Api Buron



​LUMAJANG, MCE – Ruang gerak sindikat pencurian hewan ternak (curnak) yang selama ini meresahkan warga Lumajang mulai dipersempit. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lumajang berhasil menggulung tiga anggota komplotan maling sapi lintas wilayah.

 
​Meski demikian, korps bhayangkara kini tengah mengarahkan bidikan penuh pada satu pelaku utama yang diduga kuat menjadi otak sekaligus eksekutor bersenjata api yang kini buron.


​Ketiga tersangka yang berhasil diringkus adalah H (23), warga Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah; serta AR (27) dan AG (23), keduanya merupakan warga Desa Buwek, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang.


​Kasatreskrim Polres Lumajang, AKP M Ari Nuzul Aulia, menegaskan bahwa ketiga pelaku merupakan komplotan yang mengeksekusi seekor sapi milik warga di Desa Pajarakan, Kecamatan Randuagung, pada Selasa (26/5/2026) lalu.


​"Ketiga tersangka berhasil kami amankan setelah dilakukan penyelidikan mendalam. Peran mereka adalah membantu aksi pencurian ternak yang diotaki oleh pelaku utama berinisial BK alias Taki, yang saat ini berstatus buron dan dalam pengejaran intensif," tegas AKP Ari Nuzul Aulia, Kamis (9/7/2026).


​Modus Operandi: Mengendus Celah Kandang, Kabur Lewat Kebun Tebu


​Dalam melancarkan aksinya, komplotan ini terbilang nekat namun terstruktur. Mereka menyusup ke kandang korban melalui pintu belakang yang hanya disekat sebilah bambu. Dengan senyap, para pelaku melepas tali pengikat sapi pada palungan dan menggiring hewan jarahan tersebut keluar.


​Untuk menghindari kecurigaan warga dan endusan aparat, mereka membawa sapi tersebut menyusuri jalur belakang perkampungan, membelah rimbunnya lahan tebu.


​Kronologi Penangkapan: Berakhir di Kos Pacar dan Rumah Istri


​Pelarian para tersangka berakhir secara beruntun dalam operasi senyap yang digelar tim Opsnal Satreskrim Polres Lumajang:

​• Rabu (8/7/2026), Pukul 03.00 WIB: Petugas meringkus tersangka H di sebuah rumah kos milik kekasihnya di Kecamatan Mayangan, Kabupaten Probolinggo.

​• Pukul 07.00 WIB: Perburuan bergeser ke Kecamatan Senduro. Tersangka AR tak berkutik saat disergap di rumah istrinya di Desa Kandangtepus.

​• Pukul 11.00 WIB: Tersangka ketiga, AG, dicegat petugas saat sedang melintas di wilayah Desa Ledoktempuro, Kecamatan Randuagung.


​AKP Ari menjelaskan, penangkapan trio eksekutor lapangan ini merupakan hasil pengembangan pasca-tertangkapnya seorang penadah berinisial AW yang telah lebih dulu dijebloskan ke sel tahanan.


​Otak Pelaku Kantongi Senjata Api Rakitan


​Berdasarkan nyanyian ketiga tersangka, mereka berdalih hanya bergerak di bawah komando BK alias Taki. Tersangka H, misalnya, dijemput langsung oleh BK menggunakan mobil Daihatsu Ayla merah di wilayah Ranupakis sebelum mengeksekusi target. Sapi hasil curian tersebut kemudian diangkut menggunakan kendaraan lain keesokan harinya.


​Kejutan terjadi saat polisi melakukan penggeledahan di kediaman BK. Meski sang otak pelaku berhasil lolos dari sergapan, polisi menemukan barang bukti yang mengerikan.


​"Di rumah BK, kami menemukan sepucuk senjata api rakitan. Pelaku diduga kuat telah mengendus kedatangan petugas dan melarikan diri. Saat ini, yang bersangkutan resmi masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO)," ungkap AKP Ari secara lugas.


​Dari tangan komplotan ini, polisi berhasil mengamankan kembali seekor sapi betina blasteran milik korban serta satu unit mobil Mitsubishi L-300 yang digunakan oleh penadah untuk mengangkut hasil kejahatan.


​Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, ketiga pemuda ini kini harus mendekam di balik jeruji besi. Mereka dijerat dengan Pasal 477 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal tujuh tahun.


​Sementara itu, genderang perang terhadap sisa komplotan terus ditabuh; polisi memastikan tidak akan berhenti hingga BK alias Taki terseret ke meja hijau. Kontributor: budi. 

​Bikin Bangga Bojonegoro! Siswa SMAN 1 Ngraho Borong Medali di Kejuaraan Atletik Jatim 2026, Ini Rahasia Suksesnya



BOJONEGORO, MCE – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh dunia pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Kali ini, SMAN 1 Ngraho sukses mengguncang panggung olahraga regional setelah para atlet mudanya berhasil memborong sejumlah medali dalam ajang bergengsi Juara Invitasi Atletik Antar Klub Tahun 2026 Se-Jawa Timur. Jumat (10/7/2026). 


​Kompetisi ketat yang berlangsung di Stadion Gelora Joko Samudro pada Minggu, 5 Juli 2026 tersebut menjadi saksi bisu keperkasaan mental dan fisik anak-anak didik dari ujung barat Bojonegoro ini.


​Dua nama yang kini tengah menjadi buah bibir atas performa gemilang mereka adalah Priyanti Sukmawati dan Wahyudin. Keduanya sukses naik ke podium kehormatan setelah menyisihkan rival-rival tangguh dari berbagai klub atletik terbaik se-Jawa Timur.


​Dominasi di Lapangan: Emas, Perak, dan Perunggu Dibawa Pulang


​Priyanti Sukmawati tampil luar biasa dengan mendominasi dua nomor sekaligus. Ia berhasil menyabet Juara 1 (Medali Emas) di cabang Tolak Peluru, serta mengamankan posisi Juara 2 (Medali Perak) di cabang Lempar Lembing. Sementara itu, rekan sejawatnya, Wahyudin, melengkapi kejayaan sekolah dengan meraih Juara 3 (Medali Perunggu) di cabang Lempar Lembing.


​Keberhasilan ini membuktikan bahwa potensi atlet daerah, khususnya dari SMAN 1 Ngraho, tidak boleh dipandang sebelah mata dan mampu bersaing di level tertinggi Jawa Timur.


​Apresiasi dan Komitmen Kepala Sekolah


​Kepala SMAN 1 Ngraho Kabupaten Bojonegoro, Nunuk Nuriyati, S.Pd., M.Pd., dalam pers rilis resminya tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan harunya atas pencapaian luar biasa ini. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para siswa dan tim pelatih yang telah berjuang keras.


"Teruslah berlatih, berusaha, dan berprestasi. Kalian adalah kebanggaan SMAN 1 Ngraho! Prestasi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju panggung yang lebih besar," ujar Nunuk Nuriyati tegas, memberikan suntikan motivasi bagi seluruh civitas akademika.


​Nunuk juga menambahkan bahwa pihak sekolah akan terus berkomitmen memberikan ruang, fasilitas, serta dukungan moral dan material bagi seluruh siswa yang ingin mengembangkan bakatnya, baik di bidang akademik maupun non-akademik seperti olahraga. Program sinergi seperti SMA Double Track dan Jatim Cerdas yang digaungkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terbukti nyata dalam membentuk karakter siswa yang tangguh dan siap berprestasi.


​Menyengat Publikasi: Bukti Nyata Kualitas Pendidikan Daerah


​Capaian SMAN 1 Ngraho ini menepis stigma bahwa prestasi besar hanya milik sekolah-sekolah di pusat kota. Dedikasi yang ditunjukkan oleh Priyanti dan Wahyudin menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi bagi generasi muda di Bojonegoro bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk menggenggam prestasi tingkat provinsi.


​Netizen dan masyarakat Bojonegoro pun ramai-ramai memberikan ucapan selamat di berbagai platform media sosial, berharap capaian emas ini menjadi pemantik semangat bagi atlet-atlet muda lainnya untuk terus mengharumkan nama daerah di kancah nasional. (bp). 

Berita Terbaru