Selasa, 16 Juni 2026

Bukan Salon Biasa, Rumah Lansia di Lumajang Ludes Disikat Maling: Emas Ratusan Gram & Duit Puluhan Juta Raib dalam 10 Menit



LUMAJANG, MCE – Nasib nahas menimpa Lilik (70), seorang lansia di Kelurahan Rogotrunan, Lumajang. Berniat meninggalkan rumah sebentar saja untuk belanja, ia justru harus menelan pil pahit. Rumah sekaligus salon miliknya di Jalan Prof. Moh Yamin berubah menjadi sasaran empuk maling yang agaknya sudah "mengintip" celah kelengahan korban.


​Kejadian yang bikin geleng-geleng kepala ini terjadi pada Sabtu (13/6/2026). Dalam rekaman CCTV yang kini viral di grup WhatsApp warga, pelaku—seorang pria bertopi hitam—tampak begitu tenang. Dengan gaya yang sangat "profesional", ia menoleh kanan-kiri memastikan suasana aman sebelum akhirnya menyelinap masuk.


​Hanya dalam hitungan menit, harta benda yang dikumpulkan Lilik dari keringatnya sendiri raib tak bersisa. Bayangkan saja, pelaku sukses menggondol perhiasan emas seberat 57 gram, emas batangan fantastis seberat 173 gram, dan uang tunai Rp 28 juta. 


​Kasubsi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, mengonfirmasi kejadian memilukan ini. "Pagi hari rumah ditinggal belanja. Hanya selisih sepuluh menit saat korban pulang, barang-barangnya sudah hilang," ungkapnya dengan nada prihatin.


​Kini, rekaman CCTV berdurasi 1 menit 30 detik tersebut menjadi harapan utama polisi untuk melacak jejak pelaku. Apakah maling ini adalah pemain lama atau orang terdekat yang tahu jadwal belanja sang nenek? Polisi saat ini masih terus melakukan pendalaman.


​Satu yang pasti, kasus ini menjadi pengingat keras bagi kita semua: rumah yang terlihat aman bisa jadi sasaran empuk saat kita lengah sedikit saja. Untuk pelaku, semoga segera tertangkap agar bisa mempertanggungjawabkan perbuatan "beraninya" merampok harta seorang lansia. (bp). 



Senin, 15 Juni 2026

​Muharram 1447 H: Milenial di Persimpangan, Antara Algoritma dan Akhirat




​Oleh: M. Luthfillah, M.Ag.
(Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah PDM Lamongan / Ketua Komnas Pendidikan Kabupaten Lamongan)


​Lamongan, MCE - Tahun Baru Islam 1447 H bukan sekadar pergantian angka di kalender. Ini adalah momen perenungan bagi kita, generasi milenial, yang hidup di tengah pusaran disrupsi. Kita adalah generasi "anak emas" digital; generasi pertama yang fasih menggunakan internet, namun sayangnya, juga generasi pertama yang paling rapuh di hadapan adiksi layar.


​Statistik bicara jujur, namun menyakitkan: rata-rata screen time kita mencapai 7–9 jam sehari. Dalam setiap jam yang kita habiskan untuk berselancar di dunia maya, seringkali ada hak-hak Tuhan yang terabaikan. Ironisnya, waktu kita untuk "Screen Time with Allah"—waktu yang dikhususkan untuk sujud, dzikir, dan muhasabah—seringkali hanya menjadi sisa-sisa di antara notifikasi yang tak pernah jeda.


​Hijrah dari Kebodohan Digital


​Hijrah Nabi di masa lalu adalah sebuah langkah taktis memutus rantai jahiliyah. Hari ini, 1447 H menuntut kita melakukan hal yang sama: Hijrah Digital.


​Kita perlu berani memutus rantai kebodohan modern: scrolling tanpa arah yang membuang waktu, debat kusir di kolom komentar yang miskin ilmu, hingga gaya hidup hedon yang menipu. Jika kita tidak segera berbenah, kita tidak hanya akan tertinggal secara spritual, tapi kita akan digantikan. Bukan oleh kecerdasan buatan (AI), melainkan oleh generasi baru yang lebih disiplin, lebih sadar waktu, dan lebih taat pada Sang Pencipta.


​Menjadikan Teknologi sebagai Jembatan


​Taqarrub di era 4.0 bukan berarti kita harus "anti-teknologi" dan lari ke gua pertapaan. Justru sebaliknya. Islam adalah agama yang adaptif. Gunakanlah teknologi sebagai alat dakwah, ruang belajar, dan mesin sedekah digital. Namun, ingatlah satu kaidah emas: Jadikan HP sebagai alat di genggaman, bukan kiblat baru di depan mata.


​1447 H adalah batas garis demarkasi. Di sinilah kita memutuskan: apakah kita akan terus menjadi budak algoritma yang dikendalikan oleh notifikasi, ataukah kita akan bangkit menjadi tuan atas waktu kita sendiri?


​Mari berhijrah. Mari pulang kepada Allah, sebelum waktu kita di dunia ini habis oleh tumpukan cache dan konten yang sia-sia. Editor: bp. 

El Farm Sambongrejo Ubah Lahan Jadi Destinasi Wisata Edukasi Unggulan




BOJONEGORO, MCE – Anggapan bahwa budidaya buah premium membutuhkan lahan luas dan kondisi tanah spesifik kini mulai terkikis. Di tengah dinamisnya perkembangan sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro, teknik hidroponik hadir sebagai solusi modern yang menawarkan efisiensi sekaligus kualitas hasil panen yang tak kalah dengan metode konvensional.


​Salah satu kisah sukses yang kini menjadi sorotan adalah El Farm, sebuah unit usaha pertanian yang berlokasi di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo. Tidak sekadar memproduksi buah, El Farm kini bertransformasi menjadi destinasi wisata petik melon yang menarik perhatian warga lokal hingga luar daerah.


​Berawal dari Hobi, Berujung Bisnis Modern


​Di balik kemegahan rumah kaca (greenhouse) yang tertata rapi, tersimpan kisah inspiratif dari sang pemilik, Erieza. Ia menuturkan bahwa perjalanan bisnis ini bukanlah sesuatu yang instan. Semuanya bermula dari rasa ingin tahu dan semangat belajar bersama sang suami dalam memanfaatkan pekarangan rumah.


​"Kami memulai semuanya dari skala rumah tangga. Awalnya hanya ingin memahami karakter tanaman melon dan teknik hidroponik yang presisi. Setelah merasa yakin dengan sistem yang kami bangun, barulah kami berani melakukan ekspansi skala besar seperti sekarang," ujar Erieza saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026).


​Komitmen pada Kualitas: Empat Varietas Premium


​El Farm kini tidak hanya berbicara tentang kuantitas, melainkan kualitas rasa dan estetika buah. Saat ini, terdapat sekitar 1.500 benih melon yang dibudidayakan di bawah pengawasan ketat. Tak tanggung-tanggung, mereka fokus pada empat varietas unggulan yang dikenal memiliki profil rasa manis dan tekstur renyah.


​Keempat varietas tersebut adalah Sweet Lavender, Sweet Hammi, Skid Row, dan Pearl Lady. Pilihan varietas ini didasarkan pada riset pasar serta ketahanan tanaman dalam sistem hidroponik yang diterapkan di lingkungan Sambongrejo.


​Destinasi Wisata Petik Melon


​Inovasi Erieza tidak berhenti pada budidaya. Melihat besarnya antusiasme masyarakat, El Farm membuka pintu bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman langsung memetik melon matang dari pohonnya.


​Konsep wisata edukasi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Bojonegoro yang menginginkan aktivitas akhir pekan yang berbeda—sehat, informatif, dan tentunya menyajikan buah segar dengan kualitas premium. Pengunjung tidak hanya sekadar membeli, namun juga dapat belajar secara langsung mengenai tata cara budidaya melon hidroponik yang ramah lingkungan.


​Kehadiran El Farm di Desa Sambongrejo diharapkan mampu menjadi katalisator bagi para petani muda di Bojonegoro untuk terus berinovasi. Dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern, sektor pertanian lokal kini mampu bersaing secara kualitas dan memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih menjanjikan bagi masyarakat pedesaan. (bp). 


Tak Cukup Penjara, KPK Ubah Harta Koruptor Menjadi Aset Produktif untuk Masyarakat Riau ​




​RIAU, MCE – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperkuat strategi pemulihan aset (asset recovery) sebagai instrumen krusial dalam memerangi tindak pidana korupsi. Lembaga antirasuah ini menegaskan bahwa hukuman penjara bagi koruptor tidaklah cukup. Untuk memberikan efek jera yang nyata sekaligus memulihkan kerugian negara, KPK secara konsisten melakukan perampasan aset milik pelaku korupsi untuk kemudian dikembalikan guna kepentingan masyarakat luas.


​Terbaru, pada 7 Mei lalu, KPK menyerahkan 13 bidang tanah hasil rampasan negara senilai Rp3,6 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Aset-aset tersebut merupakan barang rampasan yang berasal dari tindak pidana korupsi pengadaan proyek pengerjaan jalan di Kabupaten Bengkalis dengan terpidana MN, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkalis periode 2013–2015.

Adapun rincian aset yang dihibahkan meliputi satu bidang tanah seluas 553 meter persegi senilai Rp16 juta, serta 12 bidang tanah lainnya dengan total luas 14.437 meter persegi yang bernilai Rp3,6 miliar.


​Langkah hibah ini berlandaskan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) RI Nomor 145/PMK.06/2021. Secara normatif, pengelolaan barang rampasan negara memang diutamakan melalui mekanisme lelang. Namun, dalam kondisi tertentu—seperti aset yang tidak laku dilelang atau adanya kebutuhan mendesak untuk pengelolaan non-penjualan—pemerintah memiliki diskresi untuk mengelola barang tersebut melalui mekanisme hibah kepada instansi pemerintah daerah.


​Dalam keterangannya, KPK berharap penyerahan aset ini tidak sekadar menjadi seremonial administratif. Pihak KPK mendorong Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir agar dapat mengelola aset tersebut secara transparan, akuntabel, dan maksimal.


​"Kami berharap aset yang telah dialihkan ini dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan mendukung optimalisasi kinerja pelayanan publik di lingkungan Pemkab Indragiri Hilir," ungkap perwakilan KPK.


​Upaya ini menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi di mana harta yang dulu diperoleh secara haram melalui praktik koruptif, kini bertransformasi menjadi aset negara yang memberi manfaat nyata bagi kemaslahatan masyarakat banyak. (bp). 

Minggu, 14 Juni 2026

Rapat Tertutup di Kertanegara, Presiden Prabowo Pastikan Kepercayaan Dunia terhadap Indonesia Melonjak



JAKARTA, MCE – Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat koordinasi strategis bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Kertanegara, Jakarta, pada Minggu (14/6/2026). Pertemuan ini menjadi sinyal kuat arah kebijakan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.


​Pertemuan tersebut dihadiri oleh jajaran menteri kunci, di antaranya Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Menteri ESDM, Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kepala Badan Pengaturan BUMN, Menteri Sekretaris Negara, serta Sekretaris Kabinet.


​Fokus utama pembahasan dalam rapat tersebut adalah penyampaian laporan strategis dari Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara mengenai hasil kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Berdasarkan data valid yang dipaparkan, tercatat adanya peningkatan signifikan dalam tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap iklim investasi di Tanah Air. Minat investor asing yang tinggi kini mulai terealisasi dalam bentuk aliran investasi ke berbagai sektor strategis nasional.


​Menanggapi laporan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas agar pencapaian positif ini tidak hanya menjadi konsumsi internal pemerintah. Presiden memerintahkan Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, untuk memaparkan data tersebut secara transparan kepada publik.


​Langkah ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam menjaga akuntabilitas dan menghadirkan informasi berbasis fakta yang utuh kepada seluruh masyarakat Indonesia. Publik dapat menyimak pemaparan mendalam terkait data investasi nasional ini yang dijadwalkan akan dirilis secara resmi di Istana Merdeka pada Senin, 15 Juni 2026. (bp). 

Sumber: TIW (seskab) 



Jumat, 12 Juni 2026

​Demo BEM UI Memanas: 5 Tuntutan 'Tamparan' untuk Pemerintah, dari Makan Gratis hingga APBN yang Bocor



​JAKARTA, MCE – Langit Jakarta malam ini bukan sekadar gelap, tapi mencekam. Ribuan mahasiswa dari BEM UI, UPN Veteran Jakarta, dan IPB kompak turun ke jalan. Bukan untuk sekadar gaya-gayaan, mereka menggugat. Di tengah sorot lampu kendaraan dan barikade aparat yang siaga, mahasiswa melayangkan "tamparan" keras kepada pemerintah lewat lima tuntutan yang bikin gerah penguasa. Jumat (12/6/2026). 


​Aksi yang memadati kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, hingga larut malam ini menjadi bukti bahwa kesabaran publik—khususnya kalangan intelektual muda—telah habis. Tanpa embel-embel titipan kelompok tertentu, massa aksi menegaskan bahwa ini adalah murni jeritan nurani rakyat yang sudah muak dengan kebijakan yang dianggap melantur.


​5 "Bom" Tuntutan yang Bikin Pemerintah Meradang:


​Mahasiswa tidak lagi memakai bahasa diplomatis. Mereka menuntut pemerintah untuk berhenti berpura-pura tuli dengan daftar dosa kebijakan berikut:


​1. Stop Pemborosan APBN: Mahasiswa geram melihat uang negara dihamburkan untuk hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.


2. ​Turunkan Harga Pokok & BBM: Di saat rakyat menjerit karena harga kebutuhan melambung, pemerintah dinilai masih asyik dengan narasi keberhasilan semu.


​3. Hentikan Proyek MBG & Koperasi Merah Putih: Ini adalah poin paling kontroversial. Mahasiswa secara terang-terangan menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap hanya jadi lahan "bakar uang" ketimbang solusi nyata.


​4. Stop Militerisme di Ranah Sipil: Mahasiswa mengingatkan bahwa negara ini adalah demokrasi, bukan barak militer yang haus akan kontrol berlebihan.


​5. Akui Kesalahan, Jangan Mengelak: Sebuah pesan telak agar pemerintah berhenti melakukan gimik politik dan berani bertanggung jawab atas carut-marut kondisi bangsa.


​Rakyat atau Penguasa yang Terancam?


​Pemandangan di Bundaran HI malam ini adalah cerminan kegelisahan nasional. Barisan almamater yang berdiri kokoh berhadapan dengan aparat keamanan bukan sekadar pemandangan aksi biasa. Ini adalah pertarungan antara narasi "semua baik-baik saja" milik pemerintah dengan realita pahit yang dirasakan rakyat di lapangan.


​Hingga berita ini diturunkan, massa aksi tetap bertahan. Mereka menolak untuk pulang sebelum tuntutan didengar. Apakah pemerintah akan kembali menutup telinga, atau akhirnya mau turun dari menara gading dan mendengarkan suara yang sebenarnya?


​Menurut Anda, apakah tuntutan mahasiswa ini akan membuahkan hasil, atau hanya akan berakhir jadi pajangan di berita hari esok? (bp). 

Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, Pemkab Tuban Siapkan 1.334 Petugas Petakan Kondisi Ekonomi Daerah



Tuban, MCE - Pemerintah Kabupaten Tuban bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tuban resmi mencanangkan pelaksanaan pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Pendopo Krido Manunggal, Jumat (12/6). Pencanangan ini menandai dimulainya pemetaan kondisi ekonomi masyarakat dan pelaku usaha di Kabupaten Tuban yang akan berlangsung mulai Juni hingga akhir Agustus mendatang.


Adapun kegiatan yang mengusung tema “Sinergi Membangun Ekonomi Kabupaten Tuban melalui Sensus Ekonomi 2026” tersebut menjadi titik awal pendataan besar yang menyasar berbagai sektor usaha, mulai usaha kecil rumahan, perdagangan, jasa, industri, hingga aktivitas ekonomi berbasis digital.


Kepala BPS Kabupaten Tuban, Wicaksono, menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali untuk memotret perubahan struktur ekonomi yang terus berkembang. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu.


“Perubahan ekonomi berkembang sangat cepat. Sekarang tumbuh usaha digital, transaksi non-tunai, pekerjaan berbasis aplikasi seperti kurir dan freelancer, sampai usaha tanpa toko fisik. Semua itu perlu tercatat agar kebijakan yang dibuat sesuai kondisi riil di lapangan,” jelasnya.


Selain itu, pendataan lapangan dijadwalkan berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.334 petugas diterjunkan di seluruh wilayah Kabupaten Tuban, terdiri atas 1.177 Petugas Pendataan Lapangan Sensus (PPL) dan 157 Petugas Pemeriksa Lapangan Sensus (PML). Para petugas akan dilengkapi rompi resmi, name tag, dan surat tugas sebagai identitas saat bertugas di lapangan.


Di sisi lain, Wakil Bupati Tuban, Joko Sarwono, menegaskan bahwa keakuratan data menjadi faktor penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah. Menurutnya, data yang tidak sesuai kondisi lapangan dapat membuat arah kebijakan meleset dari kebutuhan masyarakat.


“Data adalah dasar utama membuat kebijakan. Kalau datanya akurat, lengkap, dan relevan, maka kebijakan yang diambil juga akan lebih tepat sasaran,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hasil sensus nantinya menjadi pijakan pemerintah desa, kabupaten, provinsi, hingga pusat dalam menyusun kebijakan ekonomi dan program kesejahteraan masyarakat, termasuk menekan beban pengeluaran warga serta meningkatkan pendapatan masyarakat.


Pada pelaksanaan pendataan nanti, petugas akan mendatangi keluarga maupun pelaku usaha untuk menggali informasi terkait kegiatan ekonomi yang dijalankan. Data yang dihimpun mencakup identitas usaha, tenaga kerja, penggunaan internet, pendapatan, aset usaha, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.


Karena itu, Wakil Bupati Tuban itu juga mengajak masyarakat dan pelaku usaha agar menerima petugas sensus dengan baik serta memberikan informasi secara jujur sesuai kondisi sebenarnya.


“Kalau informasinya objektif, pemerintah bisa menyusun kebijakan yang lebih tepat. Karena nanti hasil sensus ini akan digunakan bersama untuk kepentingan masyarakat,” ungkapnya.


Di akhir kegiatan, pencanangan ditutup dengan pengenaan rompi dan name tag Sensus Ekonomi 2026 secara simbolis oleh Wakil Bupati Tuban bersama Kepala BPS Kabupaten Tuban kepada perwakilan petugas sensus. Selanjutnya, prosesi tersebut diikuti seluruh peserta sebagai penanda kesiapan pelaksanaan pendataan lapangan SE2026 di Kabupaten Tuban.


Dengan pelaksanaan sensus ini, Pemkab Tuban bersama BPS berharap masyarakat dapat berpartisipasi aktif sehingga diperoleh gambaran terbaru kondisi ekonomi daerah, termasuk perkembangan usaha dan tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ke depan. (bp).

Berita Terbaru